Setelah mengikuti pelatihan menulis bersama WTS (Wahana Telisik Sastra) kemarin, pikiran saya menjadi terbuka lebar. Kemampuan yang saya kuasai sejak kelas satu SD dulu ternyata tidak berkembang dengan baik. Begitu banyak hal yang harus diperbaiki. Mulai dari keterampilan dasar hingga pengembangan ide.
Yang paling penting dalam menulis adalah kita memiliki visi. Untuk apa sebenarnya kita menuliskan suatu hal? Karna semua hal yang kita lakukan tanpa kita punya maksud dan tujuannya bagaikan menelusuri gua tanpa lentera. Sebuah visi juga dapat menjadi penguat semangat kita untuk terus berusaha menulis, meski kita harus mengulang berkali-kali untuk menyusun sebuah kalimat saja. Visi juga membantu kita dalam mengevaluasi apakah tulisan kita ini sesuai dengan keinginan kita dan para pembaca kelak.
Kwalitas tulisan juga sangat tergantung dengan kemampuan bahasa kita. Pedoman-pedoman dasar dalam menulis harus benar-benar kita kuasai. Mulai dari aturan dasar penulisan kata, pembentukan kalimat, dan penyusunan paragraf. Pada intinya matakuliah bahasa Indonesia huruf mutunya haruslah A, minimal B lah.
Sebuah tulisan memiliki dua sifat, yaitu tulisan yang bersifat inspiring dan provokatif. ketiga tulisan tersebut memiliki ciri khas masing-masing. Namun pada dasarnya yang menentukan apakah tulisan tersebut adalah tulisan inspiring ataupun provokatif adalah pembaca, bukan penulisnya sendiri. Jadi penulis hanyalah menulis apa adanya sesuai misi, visi, selera dan kemampuan dia. Yang memutuskan apakah tulisan tersebut bagus, kurang bagus, jelek, inspiring, ataupun provokatif adalah pembaca. Sehingga sebuah tulisan bisa memiliki berbagai sifat sesuai dengan berbagai penilaian pembacanya.
Tulisan yang inspiring adalah tulisan yang mampu menumbuhkan atau memunculkan sebuah gagasan atau inspirasi baru pada pembacanya. Namun ini hanya terbatas pada gagasan saja, belum bisa mempengaruhi seseorang untuk mengambil tindakan. Biasanya penulis hanya sedikit terlibat dalam tulisannya. Maksudnya, sisi subyektif dari penulis kurang terhadap tulisan ini.
Dalam tulisan yang profokatif, penulis mampu menghidupkan tulisannya sehingga pembaca terpengaruh dan mau bertindak untuk menanggapi apa yang dia baca. Disini dibutuhkan penjiwaan secara penuh dari penulis terhadap tulisannya. Sehingga pada keadaan tertentu, mungkin bagi orang-orang yang tidak tertarik dengan tema tulisan tersebut, mereka akan menganggap tulisan itu berlebihan.
Dalam menulis, penjiwaan dari kita sangat diperlukan untuk membuat tulisan kita tersebut hidup. Perasaan sangat penting untuk dilibatkan dalam tulisan kita. Cinta, hasrat dan nafsu untuk menulis hingga kita merasa seperti sedang demam jika tidak menulis. Dengan begitu tulisan-tulisan kita akan lebih mudah mengalir.
Untuk mengembangkan kemampuan dasar kita dalam menulis, kita perlu untuk melakukan pembelajaran dari tulisan-tulisan orang lain juga. Jadi selain kita rajin berlatih menulis, kita juga harus rajin membaca. Dengan membaca kita juga akan lebih mudah menemukan ide-ide baru, macam-macam gaya menulis yang menarik, dan bentuk tulisan yang sistematis.
Menulis memang tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran tinggi. Meski saya lumayan sering berlatih dan membaca, tulisan-tulisan saya masih seperti ini. Jangankan memberi inspirasi, sepertinya menarik saja tidak. Kualitas saya masih di bawah standar.